BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, secara tegas dinyatakan bahwa Pendidikan Nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak, berilmu, kreatif, mandiri dan menjadi warganegara yang bertanggung jawab, serta tanggap terhadap tuntutan perubahan zaman. Perubahan dan perkembangan dalam dunia pendidikan harus selalu mengarah pada peningkatan kualitas pendidikan.
Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan adalah tersedianya sumber daya manusia atau tenaga pendidikan berkualitas, yang akan mengantar peserta didik pada tujuan pendidikan yang diharapkan. Guru sebagai salah satu tenaga pendidikan dituntut untuk memiliki kompetensi professional dibidangnya, diantaranya kompetensi dalam hal penguasaan materi pembelajaran dan penguasaan metode pembelajaran.
Kenyataan dewasa ini menunjukkan bahwa dalam bidang pendidikan kita masih menghadapi masalah, yaitu masih rendahnya kualitas keluaran yang dihasilkan. Demikian pula dalam proses pembelajaran di kelas. Guru sering menghadapi siswa yang memiliki motivasi belajar rendah, yang turut mempengaruhi prestasi dalam belajar yang juga rendah. Kenyataan lain juga menunjukkan bahwa metode mengajar guru dalam kelas cenderung monoton dan tidak bervariasi.
Berdasarkan kondisi diatas, penelitian ini dilakukan sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan prestasi belajar siswa, khususnya dalam mata pelajaran pendidikan agama Islam pada Standar Kompetensi “Mencontoh Perilaku Terpuji”, dimana peneliti bermaksud mengungkap penerapan Metode Jigsaw dalam pembelajaran pendidikan agama Islam untuk meningkatkan motivasi berprestasi siswa di kelas V SDN Kutorejo 01 Kecamatan Tuban Kabupaten Tuban Tahun Pelajaran 2009/2010.
B. Identifikasi Masalah
Beberapa masalah yang terjadi di kelas adalah sebagai berikut:
1. Kurang minatnya siswa dalam pembelajaran pendidikan agama Islam (PAI), sehingga jika diajak tanya jawab siswa cenderung menghindar untuk menjawab.
2. Seringnya guru menggunakan metode dan pendekatan pembelajaran yang bersifat monoton.
3. Rendahnya kuantitas dan kualitas penguasaan materi pembelajaran yang dimiliki siswa.
4. Rendahnya partisipasi siswa dalam pembelajaran
5. Siswa kurang dilibatkan secara aktif dalam proses pembelajaran
6. Prestasi belajar yang ditunjukkan pada hasil ulangan rendah.
C. Pembatasan dan Rumusan Masalah
a. Pembatasan Masalah
Mengingat luasnya lingkup permasalahan, maka dalam penelitian ini dibatasi pada :
1. Penelitian dibatasi pada siswa kelas V SDN Kutorejo 01 Kecamatan Tuban Kabupaten Tuban Tahun Pelajaran 2009/2010.
2. Penelitian difokuskan pada peningkatan motivasi belajar siswa yang ditunjukkan dengan meningkatnya prestasi siswa dalam Pelajaran Pendidikan Agama Islam.
3. Pembelajaran dengan menggunakan Metode Diskusi Jigsaw
b. Rumusan Masalah
Apakah penerapan Metode Jigsaw dapat meningkatkan motivasi prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran pendidikan agama Islam di kelas V SDN Kutorejo 01 Kecamatan Tuban Kabupaten Tuban Tahun Pelajaran 2009/2010?
D. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah penerapan Metode Jigsaw dapat meningkatkan motivasi belajar siswa dalam mata pelajaran pendidikan agama Islam di kelas V SDN Kutorejo 01 Kecamatan Tuban Kabupaten Tuban Tahun Pelajaran 2009/2010.
E. Manfaat Hasil Penelitian
Penelitian ini diharapkan mempunyai manfaat untuk:
1. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam memperbaiki/meningkatkan Proses Belajar Mengajar.
2. Dapat meningkatkan motivasi dan semangat belajar siswa, khususnya dalam mata pelajaran pendidikan agama Islam.
3. Dengan meningkatnya motivasi belajar, maka Proses Belajar Mengajar akan berlangsung lebih baik.
4. Dapat memberikan masukan bagi guru, khususnya guru agama dalam penyusunan Rancangan Pembelajaran, dimana Metode Diskusi Jigsaw menjadi alternatif dalam penerapan metode mengajar di kelas.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Kajian Teori
a. Motivasi Prestasi Belajar Siswa
- Motivasi diartikan sebagai suatu dorongan naluriah yang kuat dari diri seseorang untuk mencapai hasil yang optimal. Motivasi juga diartikan sebagai suatau pernyataan yang kompleks dalam suatu organisme yang mengarahkan tingkah laku terhadap suatu tujuan, atau rangsangan dalam pencapaian tujuan” (Purwanto, Ngalim, 1994;60). Dengan demikian motivasi ialah segala sesuatu yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu.
- Prestasi dapat diartikan sebagai hasil dari suatu penilaian kerja/belajar. Prestasi mengacu pada nilai yang diperoleh dari suatu kegiatan yang didalamnya menunjukkan arah peningkatan.
- Belajar didefinisikan oleh beberapa ahli sebagai berikut:
a). Belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap sesuatu situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya yang berulang-ulang dalam situasi itu (Hilgard Bower:1975).
b). Morgan dalam buku Introduction to Pychology (1975) menyatakan bahwa belajar adalah setiap perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Motivasi Prestasi Belajar siswa diartikan sebagai suatu rangsangan (dorongan dalam diri siswa untuk bertindak melakukan sesuatu/menaruh minat besar untuk mencapai prestasi atau memperoleh nilai dalam suatu mata pelajaran. Motivasi dalam diri siswa didasari oleh adanya rasa kebutuhan/kepentingan terhadap sesuatu yang akan dicapainya. Motivasi ini dapat dilihat dari perhatian dan minat siswa terhadap dalam pembelajaran yang akhirnya tergambar pada hasil nilai yang menunjukkan prestasi.
b. Metode Diskusi Jigsaw
Dewasa ini dalam dunia pendidikan orientasi pengajaran tidak hanya pada peningkatan kemampuan kognitif, tapi diharapkan pada penggalian potensi siswa dalam belajar yang meliputi kognitif, afektif dan psikomotorik. Dengan demikian dalam pembelajaran, metode pengajaran diarahkan pada mengoptimalkan kemampuan siswa dengan cara mengaktifkan siswa secara langsung dalam proses pembelajaran. Penerapan metode mengajar yang tepat adalah metode mengajar yang menuntut partisipasi siswa secara aktif sehingga dapat meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa. Salah satu metode belajar yang dapat melibatkan siswa dalam suatu partisipasi dan kerjasama adalah Metode Diskusi Jigsaw.
Metode Diskusi Jigsaw dalam pembelajaran merupakan sebuah teknik mengajar yang didalamnya terjadi pertukaran antara satu kelompok dengan kelompok lainnya, sehingga terjadi suatu proses dimana “setiap peserta didik mempelajari sesuatu yang dikombinasi dengan materi yang telah dipelajari oleh peserta didik lain” (Silberman, Mel:2002)
Dalam Metode Jigsaw, siswa dikelompokkan menurut jumlah siswa dan setiap kelompok mendapat tugas/materi untuk dipelajari dan didiskusikan (Diskusi kelompok awal), selanjutnya dibentuk kelompok baru/kelompok ahli (Jigsaw Learning) yang diambil dari seorang wakil dari kelompok masing-masing, sehingga dalam kelompok ahli setiap siswa memiliki bahasan materi yang berbeda dengan siswa lain. Disinilah partisipasi dan kerjasama siswa dalam belajar (Copperatif Learning) terjadi antara siswa satu dengan yang lainnya.
c. Membiasakan Perilaku Terpuji
Manusia hidup di dunia tidak bisa hidup secara individu, namun selalu berhubungan yang lain, itulah akhirnya terjadi sifat terpuji dan tidak terpuji muncul. Dalam kehidupan sehari-hari ini kita berusaha untuk membiasakan diri perilaku terpuji. Dalam mata pelajaran pendidikan agama Islam memberikan pedoman tata cara membiasakan perilaku terpuji seperti yang telah dicontohkan atau diteladankan oleh para rasul. Diantara perilaku terpuji tersebut diteladankan (a) Nabi Ayyub AS (b) Nabi Musa AS (c) Nabi Isa AS.
B. Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw
- Pembentukan kelompok asal dan pemberian tugas kepada setiap anggota kelompok. Jumlah kelompok sesuai banyaknya tugas.
- Pembentukan kelompok ahli sesuai tugas yang telah diberikan dan belajar menuntaskan tugasnya. Semua peserta yang bertugas sama membentuk kelompok yang sama.
- Pakar diundang ke kelompok ahli untuk membagi kepakarannya dengan peserta
- Para peserta ahli kembali ke kelompok asal dan saling berbagi pengalaman dengan sejawatnya.
- Evaluasi lewat tournament/cara lain.
- Penghargaan.
C. Hipotesis Tindakan
Penerapan Metode Jigsaw dapat meningkatkan motivasi prestasi belajar siswa dalam mata pelajaran pendidikan Islam di kelas V SDN Kutorejo 01 Kecamatan Tuban Kabupaten Tuban Tahun Pelajaran 2009/2010.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Rancangan Penelitian
Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK) kolaboratif. Model kolaboratif ini digunakan karena peneliti memerlukan bantuan untuk melakukan observasi pada saat proses belajar mengajar berlangsung. Selain peneliti sebagai guru yang melaksanakan pembelajaran, juga melibatkan 1 orang observer, yaitu sejawat guru kelas III.
Sedangkan model rancangan yang digunakan mengacu pada rancangan Kemmis & Taggart (1998) dengan 3 siklus. Masing-masing siklus terdiri dari 4 tahapan, yaitu : (1) penyusunan rencana tindakan, (2) pelaksanaan tindakan, (3) pengamatan, dan (4) perefleksian, pengambilan kesimpulan dan saran. Pelaksanaan PTK digambarkan dalam bentuk spiral tindakan menurut Hopkins (dalam Aqip, 2003:6) sebagai berikut:
|
|
|

Gambaran penelitian PTK sebagai berikut:

B. Obyek Tindakan
Dalam penelitian ini yang menjadi obyek tindakannya adalah penerapan metode Diskusi Jigsaw terhadap pembelajaran pendidikan agama Islam pada Standar Kompetensi ”Membiasakan Perilaku Terpuji”
C. Setting/Lokasi/Subyek penelitian
1. Setting Penelitian
Waktu Penelitian. Penelitian ini dilakukan pada semester ke 1 September sampai dengan Desember 2009 (± 4 bulan).
2. Lokasi Penelitian.
Penelitian ini dilakukan terhadap siswa kelas V SDN Kutorejo 01 Kecamatan Tuban Kabupaten Tuban dengan pertimbangan dari hasil observasi awal terlihat bahwa kurangnya motivasi belajar siswa dalam menerima mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dalam standar kompetensisi ” Membiasakan Perilaku Terpuji”.
3. Subyek Penelitian.
Yang dijadikan subyek penelitian tindakan ini adalah siswa kelas V SDN Kutorejo 01 Kecamatan Tuban Kabupaten Tuban dengan jumlah 50 siswa
D. Teknik Pengumpulan Data dan Instrumen Penelitian
Prosedur pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah:
1. Observasi
Pada tahap pengamatan pendahuluan dilakukan observasi non sistematis (tidak menggunakan instrumen). Observasi ini digunakan dalam rangka identifikasi masalah. Peneliti mengobservasi pembelajaran tentang “Tata cara bergaul” yang sedang dilaksanakan.
Pada tahap pelaksanaan tindakan (siklus 1 dan 2) peneliti menggunakan observasi sistematis, yaitu observasi yang dilakukan dengan memakai pedornan/instrumen pengamatan. Peneliti mengadakan pengamatan terhadap pelaksanaan pembelajaran dengan tipe Jigsaw, dengan mengisi check list pada format observasi pembelajaran.
2. Wawancara
Wawancara yang digunakan dalam penelitian ini merupakan wawancara tidak terstruktur dan dilaksanakan secara bebas. Pada tahap pengamatan pendahuluan (pra-PTK) wawancara dilakukan dengan guru kelas, sebagai informasi pendukung dan pedoman dalam perencanaan awal. Pada tahap pelaksanaan tindakan (siklus 1 dan 2), wawancara digunakan untuk mengumpulkan data tentang siswa, keadaan kelas, dan reaksi siswa tentang pelaksanaan pembelajaran dengan tipe Jigsaw.
3. Tes
Tes digunakan untuk mengetahui tingkat pemahaman dan aplikasi konsep serta penalaran siswa terhadap konsep. Setiap siklus dilaksanakan pretest dan posttest. Soal tes berbentuk pilihan ganda, isian dan uraian singkat. Bobot nilai pilihan ganda 1, isian 2 dan uraian singkat 3. Nilai dihitung dengan rumus:
Skor perolehan
Nilai = ————————— x 10
Skor maksimal
Keterangan:
Nilai : Nilai yang dicapai siswa
Skor perolehan : Jumlah soal betul x bobot
Skor maksimal : Jumlah soal x bobot
Tingkat validitas tes diukur menggunakan rumus korelasi product moment. Caranya melalui analisis butir soal dengan menggunakan angka kasar. Rumusnya yaitu:
N∑XY - (∑X) (∑Y)______
Rxy = {N∑X2 - (∑X)2} {N∑Y2 - (∑Y)2}
Keterangan:
Rxy : validitas instrumen
N : jumlah siswa
X : belah awal
Y : belah akhir
(Arikunto, 1998:162)
Untuk menguji reliabilitas tes dengan menggunakan rumus Spearman Brown. Caranya melalui analisis butir soal dengan menggunakan teknik belah dua, awal akhir yaitu:
r 11 = 2 x r ½ ½
Keterangan :
r 11 = reliabilitas instrumen
r ½ ½ = rxy (indeks korelasi antara dua belahan instrumen)
(Arikunto, 1998:173)
Kriteria keberhasilan
Pemahaman siswa kelas V SDN Kutorejo 01 Kecamatan Tuban dalam penelitian ini dikatakan meningkat dan berhasil (tuntas) manakala (a) tiap anak dapat menguasai/memahami 75% materi, (b) sebagian besar siswa (75%) siswa menguasai 75% materi.
BAB IV
HASIL PENELITIAN
A. Gambaran Selintas Tentang Setting
Penelitian ini dilaksanakan di kelas V SDN Kutorejo 01 Kecamatan Tuban Kabupaten Tuban sebanyak 50 siswa.
B. Rencana Tindakan
a. Perencanaan/Persiapan
§ Mempersiapkan scenario pembelajaran, yang memuat langkah-langkah dalam diskusi Jigsaw beserta materi yang akan didiskusikan.
§ Mempersiapkan format observasi.
b. Implementasi Tindakan
a. Kegiatan awal/pendahuluan
§ Guru membagi kelompok awal berdasarkan jumlah siswa, dan setiap kelompok dibagikan materi/masalah untuk didiskusikan.
§ Dibentuk kelompok baru (Jigsaw Learning) dengan cara menghitung 1, 2, 3, 4, 5, sesuai jumlah anggota pada setiap kelompok, sehingga terbentuk kelompok baru yang merupakan gabungan dari wakil setiap kelompok awal.
b. Kegiatan inti
§ Siswa dalam kelompok baru secara bergantian mengajarkan materi yang dipelajari kepada siswa yang lain pada kelompok masing-masing.
§ Guru mengisi format observasi untuk siswa yang diperoleh dari pengamatan.
§ Pengamatan terhadap guru dilakukan oleh Kepala Sekolah dengan mengisi lembar format observasi yang ada.
c. Kegiatan Penutup
§ Siswa mengerjakan tes
§ Guru menyarankan untuk mempelajari kembali materi yang baru saja dibahas dan mengerjakan tugas yang diberikan
§ Guru mengakhiri pelajaran dengan mengucapkan salam
c. Observasi dan Interpretasi
Pengumpulan dan interpretasi data dilakukan secara sendiri dan dibantu oleh Kepala Sekolah.
d. Analisis dan Refleksi
Analisis dan refleksi dilakukan oleh peneliti (guru) diluar kelas dengan menggunakan analisis kualitatif.
C. Pengumpulan Data
a. Jenis data : Berupa data kualitatif
b. Teknik pengumpulan data : Observasi dengan memberi Ceklis pada format pengamatan.
c. Format pengamatan : terlampir
d. Analisa Data : Dengan mendeskripsikan temuan-temuan selama Proses Belajar Mengajar berlangsung melalui Lembar Observasi yang telah terkumpul.
D. Prosedur Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode Penelian Tindakan Kelas terdiri dari 3 (tiga) siklus. Adapun langkah-langkah dalam siklus terdiri dari: a) Planning, b). Acting, c). Observing dan d). Reflecting.
Pembelajaran Siklus I
Pada siklus I pembelajaran dilaksanakan dengan rancangan pembelajaran sesuai dengan RPP yang telah dibuat sebelumnya.
a. Persiapan
Persiapan dilakukan dengan memberitahukan kepada siswa mengenai beberapa hal yang berkaitan dengan model pembelajaran diskusi tipe Jigsaw. Oleh karena itu siswa diminta untuk mempersiapkan diri dengan baik dan bersungguh-sungguh saat melakukan kegiatan pembelajaran.
b. Pelaksanaan
Pembelajaran siklus I dimulai dengan appersepsi dan seterusnya. Sedangkan materi pembelajaran, guru lebih banyak memberikan paparan materi prasyarat & pengait. Harapan guru agar siswa lebih siap saat nanti harus melakukan kegiatan belajar sendiri atau berkelompok dengan model diskusi tipe Jigsaw.
c. Pengamatan
1) Aktivitas belajar siswa
Hasil observasi aktifitas belajar siswa dalam proses belajar mengajar diperoleh gambaran aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar selama 90 menit, sebagaimana disajikan pada tabel berikut :
Tabel 4.1. : Aktivitas Belajar Siswa Pada Siklus I
| No | Indikator Pengamatan | Skor | Kategori |
| 1 | Ketrampilan mengkonstruksi pengetahuan konsep | 1 | Kurang |
| 2 | Ketrampilan menemukan pengetahuan / konsep | 1 | Kurang |
| 3 | Ketrampilan berkomunikasi lisan / tertulis | 1 | Kurang |
Berdasarkan tabel diatas nampak selama 90 menit aktivitas siswa yang muncul kebanyakan siswa masih belum banyak melakukan aktivitas pembelajaran model diskusi tipe Jigsaw.
2) Hasil belajar siswa
Dari hasil tes yang dilakukan pada akhir siklus, diperoleh data sebagai berikut :
Tabel 4.2. : Hasil belajar siswa pada akhir siklus I
| 50 | |
| Total Skor | 3520 |
| Rata-rata (Mean) | 70,40 |
| Prosentase (%) Ketuntasan | 56,00 |
Hasil belajar pada siklus I sebagaimana data di atas nampak belum menunjukkan ketuntasan, karena hanya diperoleh prosentase sebesar 56 %.
3) Catatan aktivitas belajar siswa .
Selama pembelajaran siklus I berlangsung, tidak terdapat hal-hal yang luar biasa yang perlu mendapatkan catatan khusus. Hanya saja dari hasil wawancara dengan beberapa siswa sesungguhnya menyatakan senang dengan pembelajaran model diskusi tipe Jigsaw..
d. Refleksi
Berdasarkan proses dan hasil pembelajaran pada siklus I, dapat dilakukan refleksi sebagai berikut :
Bahwa secara umum siswa senang dengan pembelajaran model diskusi tipe Jigsaw.
Kekurangan pada siklus I adalah :
1) Kebanyakan siswa tidak atau belum melakukan kegiatan memecahkan masalah.
2) Kebanyakan siswa tidak bisa menemukan ide sendiri.
3) Kebanyakan siswa tidak bisa terampil menemukan konsep sedikit demi sedikit.
4) Kebanyakan siswa kurang bisa menganalisa atau mengajukan hasil dalam tulisan.
5) Kebanyakan siswa masih takut berkomunikasi atau mengajukan hasil karya pada teman dan guru.
6) Kebanyakan siswa tidak bisa mengajukan dugaan / hipotesis.
Untuk mengatasi masalah tersebut supaya aktifitas siswa dapat meningkat dalam pembelajaran model diskusi tipe Jigsaw, pada siklus berikutnya, maka peneliti merencanakan untuk melakukan kegiatan sebagai berikut :
1) Memberi paparan tentang aspek-aspek yang seharusnya dilakukan siswa, dan yang akan dinilai pada pembelajaran model diskusi tipe Jigsaw.
2) Memaparkan manfaat mempelajari materi dengan model diskusi tipe Jigsaw.
3) Model diskusi tipe Jigsaw dengan contoh-contoh yang lebih konkrit.
4) Memberi hadiah (reward) kepada individu dan kelompok yang menunjukkan aktifitas belajar baik atau berprestasi tertentu.
Pembelajaran Siklus II
1) Aktivitas belajar siswa
Hasil observasi aktifitas belajar siswa dalam proses belajar mengajar selama siklus II disajikan pada tabel berikut :
Tabel 4.3. : Aktivitas belajar siswa pada siklus II
| No | Indikator Pengamatan | Skor | Kategori |
| 1 | Ketrampilan mengkonstruksi pengetahuan konsep | 2 | Cukup |
| 2 | Ketrampilan menemukan pengetahuan / konsep | 1 | Kurang |
| 3 | Ketrampilan berkomunikasi lisan / tertulis | 3 | Baik |
Berdasarkan tabel diatas nampak aktivitas siswa yang muncul sudah nampak ada perbaikan, keberanian berkomunikasi juga sudah baik. Namun demikian untuk ketrampilan menemukan pengetahuan/konsep masih kurang.
2) Hasil belajar siswa
Dari hasil tes yang dilakukan pada akhir siklus 2, diperoleh data sebagai berikut :
Tabel 4.4. : Hasil belajar siswa pada akhir siklus II
| 25 | |
| Total Skor | 3755 |
| Rata-rata (Mean) | 75,1 |
| Prosentase (%) Ketuntasan | 84,00 |
Hasil belajar pada siklus II sebagaimana data di atas nampak naik dibandingkan hasil belajar pada siklus I, sudah menunjukkan ketuntasan, karena diperoleh prosentase sebesar 84,00 %.
3) Catatan aktivitas belajar siswa .
Selama pembelajaran siklus II berlangsung, tidak terdapat hal-hal yang luar biasa yang perlu mendapatkan catatan khusus.
Hal yang paling menonjol adalah kemauan siswa untuk menyatakan atau menunjukkan, bertanya, dan berkomunikasi dengan guru dan teman-teman lain sangat tinggi, sehingga membuat suasana kelas menjadi sedikit ramai.
Berdasarkan proses dan hasil pembelajaran pada siklus II, dapat dilakukan refleksi sebagai berikut :
Bahwa secara umum siswa nampak mulai tertarik dengan model diskusi tipe Jigsaw, karena itu siswa sangat antusias untuk meyampaikan segala sesuatu yang diperolehnya dengan guru atau teman-temannya.
Kekurangan pada siklus II adalah :
Kebanyakan siswa tidak bisa atau belum terampil menemukan pengetahuan/ konsep sedikit demi sedikit dengan caranya sendiri, sehingga mereka masih memerlukan penjelasan atau bimbingan guru atau berdiskusi lebih banyak dengan teman-teman lain.
Untuk mengatasi masalah tersebut, supaya aktivitas siswa dapat meningkat dalam pembelajaran model diskusi tipe Jigsaw pada siklus berikutnya, maka peneliti merencanakan untuk melakukan kegiatan sebagai berikut :
1) Memberi petunjuk langkah–langkah pembelajaran dengan lebih jelas, dan tertulis yang dapat diikuti siswa dengan mudah, dan dituangkan dalam LKS.
2) Menjelaskan bahwa setiap siswa harus menunjukkan temuannya masing-masing dengan teman sekelompok, serta saling berdiskusi satu sama lain untuk memecahkan masalah yang ada.
3) Menjelaskan bahwa tidak harus setiap siswa menanyakan atau menunjukkan atau menanyakan masalah yang ditemui kepada guru, melainkan mencoba dahulu sampai dapat ditemukan sendiri pemecahannya.
4) Tidak lagi menyatakan akan memberi hadiah (reward) kepada individu dan kelompok yang menunjukkan aktivitas belajar baik atau berprestasi tertentu, karena aktivitas siswa sudah nampak sangat meningkat.
Pembelajaran Siklus III
1) Aktivitas belajar siswa
Hasil observasi aktifitas belajar siswa dalam proses belajar mengajar selama siklus III disajikan pada tabel berikut :
Tabel 4.5. : Aktivitas belajar siswa pada siklus III
| No | Indikator Pengamatan | Skor | Kategori |
| 1 | Ketrampilan mengkonstruksi pengetahuan konsep | 3 | Baik |
| 2 | Ketrampilan menemukan pengetahuan / konsep | 2 | Cukup |
| 3 | Ketrampilan berkomunikasi lisan / tertulis | 3 | Baik |
Berdasarkan tabel diatas nampak aktivitas siswa sudah nampak cukup baik bahkan lebih baik, keterampilan menemukan pengetahuan atau konsep yang sebelumnya kurang sudah menjadi cukup, keterampilan mengkontruksi pengetahuan/konsep juga sudah meningkat menjadi baik, demikian pula halnya dengan keberanian berkomunikasi juga baik.
2) Hasil belajar siswa
Dari hasil tes yang dilakukan pada akhir siklus III, diperoleh data sebagai berikut :
Tabel 4.6. : Hasil belajar siswa pada akhir siklus III
| 50 | |
| Total Skor | 4025 |
| Rata-rata (Mean) | 80,50 |
| Prosentase (%) Ketuntasan | 96,00 |
Hasil belajar pada siklus III sebagaimana data di atas memang nampak naik dibandingkan hasil belajar pada siklus II, demikian pula dengan tingkat ketuntasan, juga menunjukkan ketuntasan di atas siklus II, yaitu sebesar 96,00 %.
3) Catatan aktivitas belajar siswa .
Selama pembelajaran siklus III berlangsung, tidak terdapat hal-hal yang luar biasa yang perlu mendapatkan catatan khusus. Hal yang paling menonjol sebagaiman pada siklus II adalah kemauan siswa untuk menyatakan atau menunjukkan, bertanya, dan berkomunikasi dengan guru dan teman-teman lain sangat tinggi, sehingga membuat suasana kelas menjadi tetap ramai, tetapi jelas ramainya aktivitas belajar, bukan aktivitas lainnya.
Berdasarkan proses dan hasil pembelajaran pada siklus III, dapat dilakukan refleksi sebagai berikut :
Bahwa secara umum siswa nampak tertarik dan senang dengan model pembelajaran model diskusi tipe Jigsaw, karena itu siswa terlihat sangat antusias untuk meyampaikan segala sesuatu yang diperolehnya dengan guru atau teman-temannya. Setelah berakhirnya siklus III ternyata siswa dalam pembelajaran lebih semangat jika guru memberi penjelasan disertai LKS yang memberi petunjuk langkah-langkah yang lebih jelas bagi siswa. Kekurangan yang utama pada siklus III adalah : Kebanyakan siswa masih belum terampil menemukan pengetahuan atau konsep sedikit demi sedikit dengan caranya sendiri. Namun hal ini dapat dipahami, model diskusi tipe Jigsaw adalah hal yang baru bagi mereka.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
1. Berdasarkan hasil yang diperoleh dalam kajian tindakan ini dapat disimpulkan bahwa tindakan atau perlakuan yang diberikan telah berhasil meningkatkan aktivitas siswa dalam pembelajaran dengan model diskusi tipe Jigsaw.
2. Model pembelajaran dengan menggunakan model diskusi tipe Jigsaw dalam pembelajaran materi “Membiasakan Perilaku Terpuji” pada kelas V SDN Kutorejo 01 Kecamatan Tuban Kabupaten Tuban, agar berhasil dengan baik harus memahami kriteria sebagai berikut :
a. Guru menjelaskan dengan rinci dan lengkap materi yang menjadi prasyarat dan pengait sebelum KBM dimulai.
b. Memberi paparan tentang aspek-aspek yang seharusnya dilakukan siswa, dan yang akan dinilai pada pembelajaran dengan model diskusi tipe Jigsaw.
c. Memaparkan manfaat mempelajari materi dengan model diskusi tipe Jigsaw dengan contoh-contoh yang lebih konkrit.
d. Memberi hadiah (reward) kepada individu dan kelompok yang menunjukkan aktifitas belajar baik atau berprestasi tertentu.
e. Memberi petunjuk langkah – langkah pembelajaran dengan lebih jelas, dan tertulis yang dapat diikuti siswa dengan mudah, dan dituangkan dalam LKS.
f. Menjelaskan bahwa setiap siswa harus menunjukkan temuannya masing-masing dengan teman sekelompok, serta saling berdiskusi satu sama lain untuk memecahkan masalah yang ada.
g. Menjelaskan bahwa tidak harus setiap siswa menyatakan atau menunjukkan atau menanyakan masalah yang ditemui kepada guru, melainkan mencoba dahulu sampai dapat ditemukan sendiri pemecahannya.
B. Saran-saran
1. Penelitian ini difokuskan pada masalah model pembelajaran model diskusi tipe Jigsaw, sehingga peneliti lain bisa meneliti masalah yang lain yang berkaitan dengan model diskusi tipe Jigsaw.
- Peneliti mengharapkan agar para guru dapat menerapkan metode pembelajaran terbaru yang dengan model diskusi tipe Jigsaw ini.
- Peneliti menyarankan, hendaknya Kepala Sekolah melengkapi media pengajaran untuk menunjang pengembangan pembelajaran dengan model diskusi tipe Jigsaw.
DAFTAR PUSTAKA
Ardhana W. 1997. Pandangan Konstruktivistik Tentang Pemecahan Masalah Belajar. Makalah Seminar TEP PPS IKIP Malang
Ardhana W. 2000, Reformasi Pembelajaran Menghadapi abad Pengetahuan. Makalah disajikan dalam Seminar dan Diskusi Panel Nasional Teknologi Pembelajaran V, PPS Universitas Negeri Malang dan / PTP ? Malang 7 Oktober
Brooks & Broooks,1999, In search of understanding the case for constructivist classrooms, Alexandria, Va. ASCD.
Cohen, L, 1976. Educational Research in Classroom and School: A Manual of Material and Methods. London: Harper Publisher.
Degeng, I Nyoman Sudana, 1997. Strategi Pembelajaran. Mengorganisasi Isi Pembelajaran dengan Model Elaborasi. Disertasi Bahasan Tentang Temuan Penelitian, Malang: IKIP MALANG.
Degeng, I Nyoman Sudana, 1989, Ilmu Pengajaran Taksonomi Variabel, Jakarta: PPLPTK
Depdiknas, 2001, Kurikulum Berbasis Kompetensi Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam, Jakarta
------------- , 2003, Pedoman Khusus Pengembangan Silabus dan Penilaian, Jakarta: Ditjen Dikdasmen
Dimyati, M, 2000a Penelitian Kualitatif; Paradigma, Epistimologi, Pendekatan, Metode dan Terapan (Cet. Ke 2) PPS Universitas Negeri Malang.
Dimyati, M, 2000b Demokratisasi Belajar Lembaga Pendidikan Dalam Masyarakat Indonesia Transisional; suatu analisis Epistimologi Ke Indonesiaan. Makalah disajikan dalam Seminar dan Diskusi Panel Nasional Teknologi Pembelajaran V, PPS UNM dan / PTP/ Malang, 7 Oktober.
Elly, W.B, 1992, How in the World Do Student Read? The Hague; IEA.
Fahrurrazy, 2000, Pendekatan Konstruktivis dalam Proses Belajar dan Mengajar, Makalah Seminar Demokratisasi dan Desentralisasi Pendidikan,UM Malang
Ibrahim, dkk. 1999. Media Pembelajaran, Malang: Universitas Negeri Malang
Jonston M. dan Thomas M. 2000, Makalah Seminar Demokratisasi dan Desentralisasi Pendidikan,UM Malang.
Jalal, F, D. 2001, Reformasi Pendidikan dalam Konteks Otonomi Daerah, Yogjakarta, Adicita Karya Nusa
Jonston M. dan Thomas M. 2000, Makalah Seminar Demokratisasi dan Desentralisasi Pendidikan,UM Malang.
Nurhadi. 2002. Pendekatan Kontekstual, Malang: Universitas Negeri MalangArikunto, S. 1998. Prosedur penelitian suatu pendekatan praktek, Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Raka Joni, T. 2000. Memicu Perbaikan Pendidikan Melalui Kurikulum Dalam Kerangka Pikir Desentralisasi: antara Content Transmission dan Pembelajaran yang Mendidik. Dalam Sindhunata (Ed). Membuka Masa Depan Anak-anak Kita: Mencari Kurikulum Pendidikan Abad XXI, halaman 33 - 47 Yogjakarta: Penerbit Kanisius.
Raka Joni, T. 2005. Pembelajaran Yang Mendidik Artikulasi Konseptual, Terapan Kontekstual Dan Verifikasi Empirik. Makalah Seminar Psikologi Pendidikan PPS UM Malang
Setiawan, EH. 2004. Huhungan antara pengelolaan kelas dengan prestasi belajar siswa
Sheal, Peter, 1989, How to Develop and Present Staff Training Courses. London: Kogan Page Ltd.
Slavin, R.E. 1997, Educational Psychogy Theory and Practice. Second Edition. Boston: Alln and Bacon.
Soedarsono, FX. 2001. Aplikasi Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta: Universitas Terbuka
Suhartono, dkk. 2000. Pengembangan bahan ajar. Universitas Negeri Malang Universitas Negeri Malang. 2000. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah, Malang: UM Press
Lampiran I
DATA HASIL BELAJAR SIKLUS 1,11, DAN III
| No | NAMA | Siklus 1 | Siklus 11 | Siklus III |
| 1 | Adinda Kinanti | 65 | 75 | 75 |
| 2 | Agnesya Trisna Budiono | 80 | 75 | 80 |
| 3 | BaAfriealdhi Treza Putra | 75 | 75 | 80 |
| 4 | Alif Galuh Permata Rachmadi | 75 | 75 | 80 |
| 5 | Agwin Nissak Nur Chumairoh | 60 | 60 | 80 |
| 6 | Alivia Sevi Cahyani | 75 | 75 | 75 |
| 7 | Allvin Rizqi Dwinanda | 75 | 75 | 80 |
| 8 | Annisa Septiana Putri | 55 | 60 | 75 |
| 9 | Aqiella Fadia Aditya | 80 | 80 | 85 |
| 10 | Aulia Dwi Yuniar | 80 | 80 | 80 |
| 11 | Bayu Aji Pamungkas | 65 | 75 | 80 |
| 12 | Bilqis Yuan Sanniyyah | 65 | 85 | 80 |
| 13 | Binar Indira Mahendra | 75 | 80 | 80 |
| 14 | Dava Teguh Budi Prakoso | 60 | 75 | 70 |
| 15 | Desya Alifia Rahmadani | 75 | 75 | 75 |
| 16 | Dewa Nuswantara | 80 | 85 | 85 |
| 17 | Dhika Ayu Nur Anindya | 75 | 75 | 75 |
| 18 | Dwi Adji Shasongko | 70 | 75 | 75 |
| 19 | Emiria Dinar Triana | 80 | 80 | 80 |
| 20 | Guntur Muhammad Fatihariy | 70 | 75 | 80 |
| 21 | Heny Firda Muyasaroh | 60 | 70 | 75 |
| 22 | Intan Astri Septyaningrum | 60 | 75 | 75 |
| 23 | Karlina Rizki Anggraini | 75 | 75 | 75 |
| 24 | Kurniawan Indra Jaya | 55 | 60 | 80 |
| 25 | Mochammad Maulana S.Y | 80 | 75 | 80 |
| 26 | Mochammad Zagy Zunivan | 70 | 80 | 80 |
| 27 | Muhammad Ahsan Hilmi | 80 | 80 | 90 |
| 28 | Muhammad Ferry Anugrah P. | 90 | 90 | 90 |
| 29 | Muhammad Issa Ansyori | 65 | 70 | 80 |
| 30 | Nur Shabrina Kintansari | 60 | 75 | 75 |
| 31 | Nuril Madania | 70 | 75 | 80 |
| 32 | Rasyid Ridlo Winanto | 75 | 75 | 85 |
| 33 | Rezaldo Sofyan Ananta | 80 | 80 | 90 |
| 34 | Rr. Putri Syarifah Sekar A. | 75 | 75 | 85 |
| 35 | Septian Arda Eka Nurcahya | 80 | 80 | 90 |
| 36 | Sisilia Novita Agustining | 75 | 75 | 85 |
| 37 | Siti Arafah Harismania | 60 | 70 | 80 |
| 38 | Syahrudin Novan Prastama | 55 | 60 | 60 |
| 39 | Syaroh Ryadhani Alviola | 65 | 75 | 85 |
| 40 | Vindri Septia Astriani | 75 | 75 | 85 |
| 41 | Veryawan Adi Pranatagama | 85 | 85 | 90 |
| 42 | Yachya Rifqi Andiko | 65 | 75 | 85 |
| 43 | Yola Safira Shalsabila | 60 | 75 | 80 |
| 44 | Yotriana Okta Berlianti | 80 | 80 | 90 |
| 45 | Yusril Dreyani Susilo | 60 | 75 | 85 |
| 46 | Wiyoga Afriyatuko | 80 | 80 | 90 |
| 47 | Nadira Dyah Rizka | 60 | 75 | 85 |
| 48 | Ravy Yulistiawan | 75 | 75 | 85 |
| 49 | Ellang Reczza Gegana E. | 65 | 75 | 80 |
| 50 | Gede Ronan Arvinando | 50 | 60 | 60 |
| Jumlah | 3520 | 3755 | 4025 | |
| Mean | 70,4 | 75,1 | 80,5 | |
| Ketuntasan | 56% | 84% | 96% | |
Lampiran 2
OBSERVASI AKTIVITAS MOTIVASI BELAJAR SISWA
Sekolah :
Hari/Tanggal :
Kelas/Semester :
Jumlah siswa :
Konsep :
Sub Konsep :
Nama Pengamat :
I. KESIAPAN MENERIMA PELAJARAN
| No. | Aspek Yang diamati | Jumlah | |
| Ya | Tidak | ||
| 1. | Membawa buku paket | | |
| 2. | Membawa buku referensi lain yang relevan | | |
| 3. | Membawa buku catatan | | |
| 4. | Membawa alat-alat tulis | | |
| | Jumlah | | |
| | Persentase | | |
II. PROSES KEGIATAN BELAJAR MENGAJAR
| No. | Aspek Yang diamati | AK | CA | KA |
| | | | | |
| 1. | Melaksanakan diskusi kelompok | | | |
| 2. | Bekerjasama dalam kelompok | | | |
| 3. | Menyelesaikan tugas mandiri | | | |
| 4. | Antusias memecahkan masalah menggunakan referensi | | | |
| 5. | Aktif menjawab pertanyaan guru | | | |
| 6. | Meminta guru mengulang pertanyaan | | | |
| 7. | Aktif mengajukan pertanyaan | | | |
| 8. | Interaksi antar siswa dalam diskusi | | | |
| 9. | Mencatat rangkuman hasil pembelajaran | | | |
| | Jumlah | | | |
| | Persentase | | | |
Keterangan:
- AK : Aktif
- CA : Cukup Aktif
- KA : Kurang aktif
Lampiran 3
PENGAMATAN GURU MENGAJAR
1. Nama Sekolah :
2. Nama Guru :
3. Mata Pelajaran :
4. Konsep/Sub Konsep :
5. Metode :
6. Kelas/Semester :
7. Hari/Tanggal :
8. Waktu :
9. Nama Pengamat :
| No. | Aspek Yang Diamati | TA | K | A |
| 1. | Memotivasi/membangkitkan minat siswa | | | |
| 2. | Menghubungkan dengan pelajaran yang lalu | | | |
| 3. | Mengkomunikasikan tujuan pembelajaran | | | |
| 4. | Guru tampil ceria, antusias, rapid an bersih | | | |
| 5. | Menguasai materi | | | |
| 6. | Mengajukan pertanyaan keseluruh siswa dalam kelas | | | |
| 7. | Memberi waktu tunggu untuk menjawab pertanyaan | | | |
| 8. | Memotivasi siswa untuk bertanya | | | |
| 9. | Memberi kesempatan siswa bertanya | | | |
| 10. | Berperan sebagai fasilitator | | | |
| 11. | Persiapan sarana pembelajaran | | | |
| 12. | Pengadaan alat/bahan | | | |
| 13. | Menguasai penggunaan alat dan bahan | | | |
| 14. | Menumbuhkan interaksi antar siswa | | | |
| 15. | Memberi alokasi waktu penyelesaian tugas kelompok | | | |
| 16. | Kesesuaian materi dengan tujuan pembelajaran | | | |
| 17. | Membimbing siswa mengumpulkan hasil kegiatan | | | |
| 18. | Membimbing siswa mengkomunikasikan hasil kegiatan | | | |
| 19. | Memantau kesulitan/kemajuan belajar, datang ke siswa | | | |
| 20. | Kejelasan menyajikan konsep | | | |
| 21. | Membimbing siswa membuat rangkuman tertulis | | | |
| 22. | Memberikan contoh penerapan sejarah Islam dalam kehidupan sehari-hari | | | |
| 23. | Mengaitkan materi dengan pembelajaran yang akan datang | | | |
| 24. | Memberi tugas kepada siswa | | | |
Keterangan:
TA : Tidak ada K : Kurang A : Ada secara cukup
Tuban, .............................
Guru yang diamati,
..................................................
Mengetahui:
Kepala Sekolah, Pengamat,
…………………… …………………….
Lampiran 4
PEDOMAN WAWANCARA TENTANG KINERJA GURU
(Responden Guru)
1. Wawancara ke :
2. Hari/Tanggal/Waktu :
3. Nama Sekolah :
4. Nama Guru/Respoden :
5. Masalah Penelitian :
| No. | Pertanyaan | Ya | Tidak |
| 1. | Apakah siswa anda aktif dalam PBM ? | | |
| 2. | Apakah siswa anda berpartisipasi dalam PBM ? | | |
| 3. | Apakah siswa anda memahami materi yang anda ajarkan ? | | |
| 4. | Apakah penampilan anda disukai siswa ? | | |
| 5. | Apakah anda menuliskan tujuan pembelajaran setiap pertemuan? | | |
| 6. | Apakah siswa anda selalu menuliskan rangkuman ? | | |
| 7. | Apakah Kerjasama siswa dalam kelompok cukup baik ? | | |
| 8. | Apakah setiap pertanyaan anda mendapat tanggapan siswa ? | | |
| 9. | Apakah strategi/pendekatan yang anda gunakan menumbuhkan kemauan/ketrampilan siswa bekerja sama ? | | |
| 10. | Apakah metode yang anda gunakan memotivasi siswa ? | | |
| | Jumlah | | |
| | Persentase | | |
………………….., ………………….
Pewawancara,
………………………………
Lampiran 5
PEDOMAN WAWANCARA TENTANG KINERJA SISWA
(Responden Siswa)
1. Wawancara ke :
2. Hari/Tanggal/Waktu :
3. Nama Sekolah :
4. Nama Siswa/Respoden :
5. Masalah Penelitian :
| No. | Pertanyaan | Ya | Tidak |
| 1. | Apakah anda suka pelajaran sejarah Islam? | | |
| 2. | Apakah anda suka apabila guru menuliskan judul dan tujuan pembelajaran ? | | |
| 3. | Ketika guru bertanya kepada kelas, apakah anda ikut menjawab? | | |
| 4 | Ketika guru bertanya kepada teman dan tidak dapat menjawab, apakah anda membantu untuk menjawab ? | | |
| 5. | Apakah anda berperan dalam diskusi kelompok ? | | |
| 6. | Apakah anda menyukai kerja kelompok ? | | |
| 7. | Apakah anda menyukai cara belajar berdiskusi ? | | |
| 8. | Apakah anda menyukai jika guru membimbing kerja kelompok? | | |
| 9. | Apakah anda suka dengan penampilan guru waktu mengajar tadi? | | |
| 10. | Apakah anda memahami materi yang baru diajarkan ? | | |
| | Jumlah | | |
| | Persentase | | |
………………….., ………………….
Pewawancara,
……………………………………..